Opini

Cacat Logika Di Negeri +62, Belajar Dari Kasus Penyiraman Air Keras

[webfathan] Logika di negeri +62 ini kebalik-balik. Candaan diseriusi, yang serius dijadiin bahan becandaan. Pejabat publik ngelawak, pelawak malah ngurusi urusan publik. Yang ngerti hukum nge-dagel, eh yang tukang nge-dagel malah lebih keren logika hukumnya

Yang jelas ngerinya, kayak PKI dan komunisme, malah dikasi ruang buat diskusi, yang selama ini aman kayak Islam dan kaum Muslim, dingeri-ngeriin. Khilafah dijadiin lebih-lebih sadis ketimbang PKI. Bikin masalah sendiri, bikin berita sendiri, nuduh sendiri, rame sendiri

Nuduh orang lain anti-Pancasila, mau ganti Pancasila, ribut sendiri bahkan sampai bikin badan pembinaan, nge-gaji ratusan juta para pembinanya. Eh, dia sendiri juga mau ubah semangat Pancasila, supaya sesuai dengan yang dia mau

Jelas-jelas panca itu artinya 5, mau disemangatin lagi jadi 3, intinya 1. Keren kan. Kalah dah tetangga sebelah, ini lebih canggih, 5 = 3 = 1, pemerasan betul, katanya intinya gotong royong, entah dimana posisi Allah, yang diakui sebagai sebab kemerdekaan dalam Pembukaan UUD 45

Sementara yang penting banget, perlu banget, malah nggak dibahas sama sekali

Kasus Novel Baswedan dari 2017, di 2020 baru dituntut, itupun cuma setahun. Alasannya karena pelaku nggak sengaja, nggak niat, LUCU. Di sisi lain covid-19 buat rakyat merana, listrik naik, biaya naik, pendapatan kurang. Ini nggak dibahas tuntas, sekali dibahas hanya kasih kursus online yang di YouTube juga banyak gratisannya

Kalau kita nggak ngerti logika pejabat di negeri +62, kita bakal terheran-heran. Kok bisa ya? Tapi kalau kita tahu logikanya, kita jadi ngeh, kenapa bisa begitu. Logikanya pejabat di negeri +62 itu mudah: “Yang penting gue”, alias serakah dan untuk kepentingan sendiri

Maka semuanya jadi make sense

Bahasan radikalisme, ekstrimisme, terorisme, anti-NKRI, anti-Pancasila, intoleransi jadi penting banget. Dianggap Indonesia terancam banget, dan merekalah pahlawannya. Karena itu semua kejahatan jadi kayak nggak penting. Korupsi, premanisme, sombong, nipu, maling, gapapa, asal koar-koar dulu “Aku Indonesia, Aku Pancasila”, gitu

Lalu tunjuk yang lain jadi bad guys, framing negatif, jadiin monster. Biar mereka yang kayak jadi hero-nya. Semuanya untuk apa? Supaya mereka bisa terus kuasai dunia, bisa tetep curang, bisa tetep memperkaya diri, sampai 7 turunan kalau perlu

Dari zaman penjajahan sama, mereka nggak mau orang jadi mikir, karena kalau orang-orang pada mikir, mereka jadi ketahuan parahnya. Liat di zaman Fir’aun gitu, di zaman Quraisy juga gitu, sampai penjajahan Belanda, modusnya juga sama

Ok, simak aja video lengkapnya di YouTube, dan jangan repot kalau ada komen nyinyir di bawah, ya itu resikonya, paling ada kata-kata “Jangan bahas politik deh, bahas agama aja”, atau “Dasar kadrun”, atau semisalnya. Seperti yang saya bilang, mereka takut kalau ummat sudah mikir

#logika #airkeras #indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *