Opini

Corona: Mungkinkah Virus Bisa Dimainkan di Tengah Perang Dagang?

[webfathan] Seorang pasien di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, jadi suspect terjangkit virus Corona. Pihak rumah sakit tengah melakukan observasi lebih lanjut.

Berdasarkan penjelasan dari rumah sakit, dikutip dari CNNIndonesia, Jumat (24/1/2020), pasien tersebut merupakan warga negara Indonesia. Pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan dari China (sumber: detik.com)

Virus baru yang disebut corona virus telah membuat geger warga dunia. Sebab, selain dapat menyebar dengan sangat cepat, virus itu juga telah menyebabkan kematian pada banyak orang di beberapa negara dunia, utamanya di China.

Pada Kamis (24/1/2020), pemerintah China mengatakan, virus yang pertama kali muncul dari daerah Wuhan ini telah memakan korban jiwa sebanyak 25 orang dan menjangkiti lebih dari 830 orang sejak pertama kali muncul akhir tahun lalu.

Menurut peneliti, Virus corona merupakan virus yang kerap menginfeksi hewan. Namun, virus itu lambat laun dapat berevolusi dan menyebar ke manusia. Virus Corona juga disebut mirip dengan SARS yang mewabah di seluruh dunia pada 2002-2003 itu (sumber: cnbc indonesia).

Epidemi virus corona yang tengah menyebar secara global bisa jadi berasal dari laboratorium di Wuhan, yang terkait dengan program senjata biologi rahasia China. Hal ini diungkapkan oleh seorang ahli perang biologis Israel.

Minggu ini, Radio Free Asia menyiarkan ulang laporan televisi lokal Wuhan dari tahun 2015 lalu, yang menunjukkan laboratorium penelitian virus paling maju di China, yang dikenal sebagai Institut Virologi Wuhan. Laboratorium itu adalah satu-satunya tempat yang dinyatakan China mampu mengerjakan virus-virus mematikan.

Mantan petinggi intelijen militer Israel yang telah mempelajari senjata biologi China, Dany Shoham, mengatakan kalau institut ini berhubungan dengan program senjata biologi rahasia Beijing.
(sumber: viva.co.id)

Cara penyebaran yang misterius banyak negara membuat corona alert bagi traveller dari China. Bahkan Negara-negara Asia kian meningkatkan pertahanannya terhadap virus baru dari China yang menyerupai SARS. Sejak Selasa 21 Januari, diberlakukan pemeriksaan wajib di bandara kedatangan dari daerah-daerah berisiko tinggi di Tiongkok ketika pihak berwenang bergerak untuk mencegah krisis kesehatan regional.

Amerika dan Australia pun turut memberlakukan Travel Alert dengan mendeteksi suhu tubuh warganya yang berasal dari China. Perhatian yang luar biasa dunia terhadap virus corona ini, setidaknya ada beberapa analisa yang menurut penulis harus diungkap.

1. Sanksi sosial terhadap China
Kita tahu saat ini China tengah menjalankan visi ekonomi jangka panjang di dunia umumnya dan Asia khususnya. Pemerintah Cina semakin gencar mengembangkan Belt Road Initiative (BRI) atau kita juga mengenalnya dengan One Belt One Road (OBOR).

Kebijakan BRI dimulai saat Cina masuk dalam perdagangan bebas ASEAN. Keterbukaan Indonesia sendiri terhadap Cina dibuka sejak perjanjian antar ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) pada 1 Januari 2010, dimana ditandatangani persetujuan pada tahun November 2004 dan direvisi pada tahun 2006 dan 2010.

Kesepakatan ini berlaku efektif pada 1 Januarry 2012 untuk produk barang dengan status “Normal Track”. Artinya, produk yang dikatakan dapat normal diperdagangkan antar negara dan bukan  produk “sensitive” yang diperdagangkan antar negara. Sementara keterbukaan untuk sektor Jasa ditandangani pada tahun 2007 dan fasilitasi investasi antar negara ASEAN dan China ditandatangani sejak 2009. (sumber: republika.co.id)

Asia Tenggara adalah mitra strategis penting dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) China. Wilayah ini berfungsi sebagai penghubung utama di Jalur Sutera Maritim BRI, yang bertujuan untuk menghubungkan pantai China dengan Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa melalui Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Tetapi kritik terhadap BRI telah menyoroti beberapa risiko dalam berpartisipasi.

Misalkan di Indonesia saja, untuk proyek-proyek yang bekerja sama dengan China, dari tenaga kasar sampai tenaga ahli di datangkan dari China. Termasuk semua bahan baku pun juga demikian, hal ini teridentifikasi juga saat Krakatau Steel mulai bangkrut, karena gelontoran baja sintetis dari China. Keluhan yang sama juga datang dari Laos, penduduk setempat mengeluh bahwa tenaga kerja pada proyek kereta api BRI sepanjang 414 kilometer—yang akan menghubungkan ibu kotanya Vientiane ke perbatasan China-Laos—sebagian besar merupakan warga negara China.

Lagipula Proyek Sabuk dan Jalan China (BRI) menimbulkan kekhawatiran bahwa itu akan menjadi jebakan perangkap utang. Meskipun beberapa negara menyambut baik dan antusias proyek BRI termasuk Indonesia.

Setidaknya dengan munculnya Virus Corona dari China bisa sebagai sarana muhasabah sosial. Buruknya pertahanan pangan dan berkembangnya berbagai virus dan penyakit dari China harusnya menjadi koreksi bagi pemerintah Indonesia dan negara-negara Asia. Hegemoni ekonomi yang ditancapkan oleh China setidaknya mengalami goncangan dengan menyebarnya virus ini.

2. Virus corona sebagai salah satu strategi perang dagang AS – China
Perang dagang bermula hanyalah gejala perkembangan dan problem struktur perekonomian dunia dan kompetisi dalam dunia politik negara. Trump menilai bahwa ekspor itu sehat bagi perekonomian domestiknya namun impor itu memperburuknya sehingga politik dagang tarif China impor dinilai jadi instrumen penting namun menciptakan perang dagang itu.

Kebijakan AS adalah meningkatkan restriksi impor untuk menekan defisit perdagangan dengan China. Defisit perdagangan AS dengan China meningkat dari USD 371,8 miliar pada 2016 menjadi US$ 395,8 miliar pada 2017.

China bereaksi keras dengan menambahkan tarif impor terhadap 128 produk AS senilai USD 3 miliar dengan rincian 120 produk AS terkena ekstra tarif 15% dan 8 produk AS terkena ekstra tarif 25%. Selanjutnya, China menambahkan tarif untuk 106 produk impor dari AS senilai US$ 50 miliar, perang dagang penuh ketegangan dimulai tanpa bisa dipastikan kapan berakhirnya.

Perang Dagang adalah suatu manifestasi di dalam ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia jika berlangsung tiada henti maka potensi masuk ke stadium perang ekonomi dengan dimensi-dimensi serta resonansinya meluas.

Baik antara dua negara dengan berbagai komoditas ekspor-impornya, maupun mengajak negara sekutu-sekutu ekonomi masing-masing dan banyak pihak memproyeksikan China menang dan timing inilah memunculkan era kebangkitan china dan era kemerosotan AS. Peter Navarro menyatakan ini adalah Kematian oleh China “Death by China”.

Nah, tidak menutup kemungkinan virus corona ini menjadi terlihat besar dan luas akibat adanya strategi perang dagang ini. Sehingga mau tidak mau akan menurunkan angka impor barang dari China, sehingga angka eksport China mengalami penurunan.

Sebagamaina proyeksi yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga think tank Amerika. Ya, pada Desember 2004 NIC (National Intelelligence Council’s) milik AS ini mengeluarkan hasil risetnya.

Mereka memprediksi tentang empat skenario dunia tahun 2020, diantaranya:

  1. Davod Word, China dan India muncul menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.
  2. Pax Americana: dunia masih di pimpin oleh AS sebagai negara adi daya dengan Pax Americana-nya.
  3. A New Chaliphate: Berdirinya kembali sebuah Khilafah Islam yang baru, yang akan menguasai dunia.
  4. Cyrcle of Fear; munculnya lingkaran ketakutan.

Prediksi pertama, bahwa China semakin menghegemoni dengan kekuatan modalnya. Bahkan negara-negara Afrika sudah banyak ketergantungan terhadap China, demikian juga Asia. Di Asia cengkraman China sebagai Kapitalis Timur cukup kuat.

Prediksi kedua juga masih relevan, dimana Amerika masih menjadi Negara Adi Daya. Meskipun rapuh tapi Amerika masih diakui sebagai polisi dunia. Keberadaannya masih ditakuti dan kebijakannya masih ditakuti.

Saat ketika perekonomian China benar-benar menguat dan AS masih menjadi negara superpower, maka perang dagang antara keduanya sangat mungkin terjadi. Sehingga isu apapun bisa saling dilempar kepasaran untuk menjatuhkan pesaing.

Sedangkan prediksi ketiga pun nampaknya kini menemukan keniscayaannya. Sampai saat ini istilah Khilafah begitu populer. Bukan hanya kalangan bawah yang membincangkan Khilafah. Kalangan menengah dan atas pun begitu gencar membahas Khilafah. Khilafah tinggal tunggu waktu saja.

Kemudian prediksi ke-empat pun menemukan kenyataannya. Indikasi Penduduk bumi berada dalam Lingkaran ketakutan menemui faktanya. Saat ini rasa ketakutan menghinggapi dan menghantui sebagian penduduk bumi. Rakyat ditakut-takuti dengan isu terorisme, radikal dan intoleran, ditambah lagi ancaman kesehatan dan kematian, dengan munculnya virus-virus baru yang cukup meresahkan.

Harapan untuk bisa keluar dari jebakan kepentingan negara-negara besar cukup tinggi di masyarakat, ditandai dengan munculnya kesadaran umat akan semakin runyamnya permasalahan ditengah sistem kapitalis global. Rakyat mulai jenuh dengan kondisi yang ada, mereka mulai mencari solusi alternatif dan melirik pada Islam dan Khilafah. Wallahu’alam.

Endah Sulistiowati 
(Dir. Muslimah Voice, Dosen Online Uniol 4.0 Diponorogo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *