Artikel, Religi

Felix Siauw: Menjaga Kehidupan Itu Bukan Takut Mati

[webfathan] Khawatir itu boleh dan lumrah, sebab adanya memang untuk menjaga agar kita bisa tetap berhati-hati dan bertahan hidup. Yang nggak boleh itu, terlalu khawatir.

Takut itu fitrah, justru mereka yang punya rasa takut akan menyiapkan diri untuk masa depan yang tak pasti, dan bisa move-on dari masa lalu yang sudah terjadi.

Muslim diajarkan tak takut mati, disaat yang sama diperintah supaya nggak cari mati. Islam sangat menghargai hidup, supaya bisa menghamba pada yang memberi kehidupan.

Karena itu Islam sangat menghargai mayit, sebab ia dalam keadaan kembali Tuhannya. Dibersihkan, dimandikan, diberi wewangian, diberi pakaian terakhirnya, dishalati, didoakan.

Lalu dihantar ke tempat istirahatnya, semua harus dilakukan dengan kelembutan, Islam menghargai kehidupan, karena itu kematian pun diperhatikan, karena itu awal kehidupan lain.

Jadi perlu digarisbawahi, menjaga kehidupan tidak sama dengan takut mati, menjaga kehidupan itu bagian agama, takut mati itu sikap tercela dalam Islam.

Apa bedanya? Yang takut mati, biasanya melanggar syariat. Lihat dalam surah Al-Ahzab, Allah mengkritik mereka yang lari dari peperangan, sebagai orang munafik pengecut.

Dalam masa wabah ini, tidak berkerumun, tidak shalat jamaah dulu, #socialdistancing#jagajarak itu bagian dari menjaga kehidupan, tapi menolak jenazah covid-19, itu takut mati.

Mengapa? Karena menolak jenazah covid-19 untuk dikuburkan itu melanggar syariat. Padahal sikap kita terhadap mayit sudah jelas, segera dimakamkan, beri penghormatan.

Lagipula para dokter dan ahlinya, sudah menjelaskan bahwa hal itu tidak akan menjadi bahaya bagi masyarakat sekitar. Maka takut yang berlebihan ini adalah penyakit sesungguhnya.

Terinfeksi covid-19 itu bukan aib, awam atau ulama, kaya atau miskin, siapapun bisa terinfeksi. Andai sabar dan wafat dalam keadaan terkena wabah, Rasul katakan syahid.

Lagipula, justru dalam masa seperti ini, para tenaga medis layaknya mujahid yang harus dibantu dan didukung, bukan ditolak di kos-kos mereka, atau ditolak pemakamannya.

Asal kita mau tahu: ketidakpedulian itu, justru penyakit yang lebih berbahaya dari covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *