Inspirasi, Artikel

Indahnya Saling Mengingatkan, Agar Masuk Surga Bersama

[webfathan] “Dengerin ya Bu, yang riba saya, yang dosa saya, ngapain ikut campur? Urus aja urusan masing-masing!”

Apakah ada yang pernah mengalami disemprot seperti itu? Atau jangan-jangan anda pernah mengatakan hal tersebut kepada orang lain yang menasehati anda?

Ungkapan “masing-masing saja” memang sudah lazim saat ini. Sebagian masyarakat (apalagi yang tinggal di perkotaan) memandang bahwa urusan pribadi seperti kegiatan hutang-piutang baik kepada bank atau rentenir merupakan wilayah privat yang tidak usah diurusi oleh orang lain.

Jika ada orang yang menasehati atau mengingatkan tentang dosa riba, siap-siap kena semprot seperti contoh diatas. Jangankan masalah ribawi, masalah lain seperti shalat, puasa pun begitu. Apalagi yang menasehati bukan seorang Ustadz yang berlatar belakang pesantren.

Padahal sebetulnya, kegiatan saling mengingatkan seharusnya menjadi kebiasaan setiap ummat Islam. Seperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW, para shahabat dan kaum muslimin pada zaman keemasan Islam. Dalam Islam, sudah hal yang sangat lumrah para tetangga saling mengingatkan dalam kebaikan, orangtua mengingatkan anak-anaknya, atau rakyat mengingatkan pemimpinnya. Lalu kenapa kiranya kegiatan saling mengingatkan ini seperti pudar pada zaman ini?

Jika diteliti lebih dalam, ternyata penyebab hilangnya kegiatan saling mengingatkan ini karena kita sedang berada dalam sistem sekuler. Sekulerisme adalah sebuah sistem yang diadopsi sebuah negara untuk memisahkan agama dari kehidupan. Dengan sistem pemisahan agama dari kehidupan, maka akan terbentuk masyarakat yang menjadikan agama adalah ranah pribadi yang tidak perlu campur tangan orang lain. Mereka mencukupkan perbincangan soal agama di mesjid saja, tidak untuk diskusi sehari-hari.

Peran negara sangat penting dalam pembinaan ketakwaan rakyatnya. Karena negara punya wewenang untuk mebuat aturan yang dapat diberlakukan terhadap rakyatnya. Baik aturan bemasyarakat, pendidikan bahkan perekonomian. Jika negara menerapkan sistem yang islami untuk masyarakatnya, maka sudah pasti akan terbentuk masyarakat yang islami pula. Lantas pertanyaannya, betulkah teori tersebut?

Teori diatas betul adanya, bahkan pernah diterapkan oleh negara Islam selama kurang lebih seribu empat ratus tahun. Sejak baginda Rasulullah SAW hijrah ke Madinah sampai kekhilafahan Utsmaniyah di turki yang runtuh tahun 1924 silam.

Negara Islam menerapkan semua kebijakan untuk rakyatnya berdasarkan Alquran dan Assunnah. Semua dalil Alquran dan Assunnah menjadi dasar pelaksanaan sebuah negara.

Di dalam Alquran disebutkan
ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS.Ali-Imran [3] :104).

Juga dalam Alhadits, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ
Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim).

Atas landasan inilah sistem kemasyarakatan Islam tegak. Negara akan sangat memfasilitasi kegiatan saling mengingatkan. Baik itu antar individu masyarakat, atapun antar masyarakat dan negara. Dengan ketakwaan yang terus dibangun, sikap saling mengingatkan akan terbangun dengan sendirinya. Dan kegiatan saling mengingatkan ini akan menjadi hal yang lumrah terjadi di masyarakat.

Dengan ketakwaan yang tinggi pula, para pemimpin akan sangat terbuka dengan nasehat dari rakyat untuk mereka. Para pemimpin dalam Islam tidak akan alergi dengan nasehat yang disampaikan oleh rakyatnya. Tebukti saat kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab yang menerima saat di protes oleh rakyatnya seorang muslimah tentang mahar. Dan dengan ketakwaannya pula, Umar saat itu menerima protes sang muslimah karena dalil yang dikemukakan lebih kuat dibanding pendapatnya.

Indahnya saling mengingatkan dalam kebaikan. Ini merupakan bentuk kepedulian yang tinggi dari seseorang untuk saudaranya yang lain. Karena dalam Islam, masuk surga itu bersama-sama. Bukan sendirian. [Aisyah Farha ]

Waallahu A’lam Bishshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *