Inspirasi, Artikel

Jangan Kau Tanya Kapan Menikah, Tanyalah Dengan Siapa Engkau Menikah

[webfathan] Menikah adalah salah satu sunnah Nabi yang mulia, namun ada seringkali pertanyaan yang tak penting terucap ; Kapan menikah? Sesungguhnya ada yang lebih penting dari pertanyaan itu, dengan siapa anda menikah?

Karena banyak orang istiqamah justru tergelincir karena pasangannya pasca menikah. Sebaliknya ada orang telat menikah, namun makin kokoh keimanannya bersebab pasangannya tersebut.

Banyak yang tidak suka bahkan mungkin berkata sinis ketika seseorang berharap di satukan dengan pasangan yang semanhaj.

Mungkin karena mereka belum mengenal manhaj salaf itu sendiri. Bagi kami, Hidup berumah tangga bukanlah ibadah yang sebentar. Bukan hanya sekedar aku cinta kamu, aku sayang kamu, dia punya harta, dia punya tahta, dia hafidz qur’an, dia gagah, dia cantik dan sebagainya.

Ketahuilah standar tinggi dalam mencari pasangan adalah agama dan akhlaknya. Agama yang bagaimana, apa cukup dengan dia lulusan pondok dan hafidz qur’an? Tentu saja tidak. Ini bukan masalah sepele, yang di tekankan dalam hal agama dan akhlak disini adalah bagaimana dia memahami agamanya, bagaimana dia mengambil dan memahami dalil yang ada. Bukan sekedar hafal qur’an dan haditsnya saja, bagaimana memaknainya dan mengamalkannya itu lebih penting. Itulah pentingnya memilih tempat Kuliah minimal lingkungan dimana kita kuliah. Carilah lingkungan Kampus yang mendukung untuk itu, lebih-lebih jika mendapati Kampus memperhatikan masalah Aqidah dan Manhaj serta pembinaan Akhlaqnya, Utamakan masuk kesana. Sudah banyak PT yang seperti di Indonesia, namun untuk Jurusan Kesehatan, Kampus El hijrah Pilihannya.

Memang gak akan ada rumah tangga yang akan terus bahagia.

Lalu kenapa mengatakam bahagia jika menikah dengan yang semanhaj ?

Karena bagaimanapun masalahnya jika suami bermanhaj salaf maka sedikit bisa dia akan berusaha mengikuti sekecil apapun sunnah Rasulullah sholallahu alahi wassalam.

Dalam perkara ini bagaimana menyelesaikan persoalan rumah tangga, bagaimana Rasul memperlakukan istrinya.

Sedangkan bagi wanita yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tentu dengan bermanhaj dia tau kemana mengarahkan faham agama anaknya, bagaimana menghargai suami, bagaimana menghargai mertua, mana ngambek yang dibolehkan dan sebagainya, keduanya akan bersandar pada dalil sebelum melakukan apa-apa.

Indahnya ketika membicarakan perkara agama yang gak ada pertentangan, yang ada saling mengajarkan dan berdiskusi membicarakan perkara agama yang akan mengantarkan keduanya ke surga.

Jadi, perkara semanhaj ini bukan perkara sepele. Karena sudah banyak yang merasa dirinya bisa mewarnai (mempengaruhi pasangan) untuk bermanhaj yang ada malah dia yang diwarnai (mengikuti faham pasangannya) yang jauh dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karenanya Nabi SAW memohon perlindungan kepada Allah dari pasangan yg buruk,

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari pasangan yang membuatku cepat tua sebelum ketuaan itu benar-benar datang padaku.” (Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, 3127)

Menikah bukan untuk tergesa-gesa agar segera ganti status dan punya nama. Namun untuk menjalankan Sunnah Nabi yang mulia dengan orang yang baik akhlaq dan agamanya.

oleh: Yuanita, S.Kep & Ana

(Mahasiswa Prodi Ners Kampus El Hijrah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *