Opini

Opini: Khilafah Menurut Hujjah Al-Islam Imam Al-Ghazali

[pemudauntold] Diantara sandaran yang menolak atau meragukan kewajiban Khilafah ialah apa yang dinisbahkan kepada Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam al-Iqtishad fi al-I’tiqad, seperti dalam tulisan “Mengkonversi Sistem Pemerintahan (Pengantar Diskusi Seputar Khilafah)”, “Duh, Petinggi HTI Rokhmat S. Labib Catut Nama Imam Al-Ghazali untuk Membenarkan Khilafah” dan tulisan lain yang semisal.

Dikatakan bahwa Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali hanya menyatakan wajib memiliki pemimpin secara umum tanpa terikat dengan sistem tertentu, semisal Sistem Khilafah. Pemimpin dalam sistem apapun wajib ditaati selama dianggap memenuhi fungsi dan peranan kepemimpinan di masyarakat. Jika konteks masa lalu ada gelar Khalifah, Imam, Amir atau Sultan; maka dalam konteks saat ini termasuk juga Raja dan Presiden. Bahkan dikatakan menurut beliau masalah Imamah bukan perkara penting (al-muhimmat). Benarkah penisbahan tersebut kepada Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali sudah tepat ataukah ada kesalahpahaman dalam mengkajinya?

Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali merupakan penerus sanad Imam al-Haramain, dalam ushuluddin (Asy’ariyyah) dan fiqih (Syafi’iyyah), serta bagian dari Ulama Nizhamiyyah, madrasah yang dinisbahkan kepada Wazir Nizham al-Mulk dari Salajiqah, pendukung setia Khilafah Abbasiyyah. Beliau dikenal sebagai ahli ushul, pakar fiqih sekaligus rujukan tasawuf. Diantara karya nya selain al-Iqtishad ialah Iljam al-‘Awwam dan Tahafut al-Falasifah dalam bidang ushuluddin, al-Wajiz di bidang fiqih, al-Mustashfa di bidang ushul fiqih, Ihya’ ‘Ulum ad-Din di bidang tasawuf, serta yang lainnya. Oleh karena itu, memahami pemikiran beliau tentang suatu perkara tidak hanya dibatasi pada 1 atau 2 kitab saja, namun secara utuh dan menyeluruh.

Secara jelas dalam al-I’tiqad beliau menuliskan

وجوب نصب الإمام

Kewajiban nashb (pengangkatan) Imam

Dijelaskan kewajibannya berdasarkan syara’ bukan akal, yakni Ijma’; meskipun secara akal juga dapat dipahami kewajiban tersebut. Bahkan beliau menegaskan bahwa Imam yang ditaati adalah syarat bagi aturan ad-Din dan perkara syara’ yang dharuri (pokok).

أن نظام الدين لا يحصل إلا بإمام مطاع

“Aturan ad-din tidak terwujud kecuali dengan Imam yang ditaati”.

فكان وجوب نصب الإمام من ضروريات الشرع الذي لا سبيل إلى تركه

“Kewajiban nashbul Imam termasuk dharuriyat (perkara pokok) nya syara’ yang tidak ada jalan untuk meninggalkannya”.

Dijelaskan pula syarat – syarat seorang Imam, yang salah satunya adalah nasab Quraisy serta mekanisme pengangkatan dan pemilihannya termasuk saat kondisi darurat, semisal hilangnya syarat ilmu atau adil pada seorang Imam yang berkuasa karena kekuatan dan pasukannya.

Kemudian dilanjutkan kritik terhadap teori nash-nya Syi’ah dan penjelasan pandangan Ahlus Sunnah terhadap para Sahabat, terutama al-Khulafa’ ar-Rasyidun.

Secara umum, pemikiran Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali tentang Imamah tidak berbeda dengan para pendahulunya semisal para Imam: al-Haramain dalam Ghiyats al-Umam, al-Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyyah dan asy-Syairazi dalam at-Tanbih, juga dengan para penerusnya semisal para Imam: Syaikh al-Islam an-Nawawi dalam Raudhah ath-Thalibin, Minhaj ath-Thalibin dan Syarh Shahih Muslim; Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari dalam Manhaj ath-Thullab dan Fath al-Wahhab; dan para muridnya, Ibn Hajar, ar-Ramli dan asy-Syarbini saat men-syarah al-Minhaj.

Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang lain, yakni Ihya’ ‘Ulum ad-Din menegaskan bahwa:

أحكام الخلافة والقضاء والسياسات بل أكثر أحكام الفقه مقصودها حفظ مصالح الدنيا لينم بها مصالح الدين

“Hukum-hukum mengenai Khilafah, peradilan dan politik bahkan kebanyakan hukum – hukum fiqih itu tujuannya ialah menjaga berbagai mashlahat dunia untuk menyempurnakan dengannya berbagai mashlahah ad-din”.

Bahkan beliau menegaskan:

أما الخلافة والإمارة فهي من أفضل العبادات إذا كان ذلك مع العدل والإخلاص وقد قال الني صلى الله عليه وسلم

ليوم من إمام عادل خير من عبادة الرجل وحده ستين عاما

“Adapun Khilafah dan Imarah maka termasuk ibadah yang paling utama apabila disertai adil dan ikhlas. Sungguh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Sungguh satu hari dari Imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang laki – laki selama 60 (enam puluh) tahun”.

Dalam Takhrij Ahadits al-Ihya’, Imam Zainuddin al-Iraqi menyebutkan bahwa hadits semisal diriwayatkan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad Hasan. Demikian pula disebutkan Imam al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib. Hadits semisal diriwayatkan pula Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra.

Demikianlah ungkapan Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam karyanya yang dikenal sebagai rujukan tasawuf. Seakan merupakan isyarat bahwa Sufiyyah dan ulama Sufi bukanlah yang meninggalkan politik dan Khilafah, bahkan dinilai sebagai ibadah yang paling utama.

Adapun klaim bahwa semua yang dijelaskan hanyalah terkait Imamah yang dimaknai kepemimpinan secara umum, bukan Khilafah yang khusus dengan sistem tertentu, maka telah terjawab dalam syarat – syarat Imam yang disebutkan beliau, terutama nasab Quraisy.

Sudah ma’lum dalam kajian Fiqih Siyasah bahwa syarat Quraisy hanya berlaku untuk Khalifah sebagai pemimpin tertinggi kaum muslimin di dunia. Bagi para pemimpin di daerah/negeri tidak ada Ulama Mu’tabar yang menjadikan Quraisy sebagai syarat. Sedangkan bagi Khalifah maka sudah masyhur di kalangan Syafi’iyyah bahwa Quraisy adalah syarat keutamaan sebagaimana dijelaskan Syaikh al-Islam Imam an-Nawawi dalam Raudhah ath-Thalibin dan Syaikh al-Islam Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari.

Demikian pula, penjelasan beliau terkait peranan dan kewenangan Imam dalam mengangkat wali (pemimpin daerah) di berbagai negeri dan qadhi (pejabat peradilan) yang mengurus berbagai akad (ekonomi) dan pernikahan. Tentu, yang dimaksud ialah Imam sebagai pemimpin tertinggi, bukan sekedar pemimpin secara umum di suatu wliayah.

Jadi, penggunaan istilah Imam dan Sultan dalam al-Iqtishad jauh dari klaim bahwa beliau membolehkan sistem selain Khilafah. Bahkan secara jelas, bahasan akhir dari bab al-Imamah ialah tentang al-Khulafa’ ar-Rasyidun:

أما الخلفاء الراشدون فهم أفضل من غيرهم وترتيبهم في الفضل عند أهل السنة كترتيبهم في الإمامة

“Adapun para Khulafa’ Rasyidun maka lebih utama dari selain mereka dan urutannya dalam keutamaan menurut Ahlus Sunnah seperti urutunnya dalam Imamah”.

Penjelasan semisal juga disebutkan Syaikh al-Azhar Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam Tuhfah al-Murid syarh Jauharah at-Tauhid dan Sayyid ‘Ulama’ al-Hijaz Syaikh Nawawi al-Jawi dalam Tijan ad-Durari syarh Risalah al-Bajuri, yang uslub penjelasannya mirip dengan nukilan al-‘Allamah al-Musnid al-Qadhi Syaikhuna Yusuf an-Nabhani dalam al-Asalib al-Badi’ah dari al-Ghuniyyah-nya Sulthan al-Auliya’ Imam Abdul Qadir al-Jailani.

Apa yang dinukil sebelumnya dari al-Ihya’ menunjukkan Imam yang dimaksud beliau berkaitan dengan Khilafah dan Imarah. Lebih daripada itu, dalam al-Iqtishad disebutkan kewajiban Imam mesti seorang saja:

وإن كان لأكثر من رجل فلا بد من اجتماعهم وبيعتهم وإتفاقهم على التفويض حتى تتم الطاعة فإذا لم يوجد بعد وفاة الإمام إلا رجل فرشي واحد وفيه كل صفات الإمام فإمامته صحيحة وتجب طاعته.

“Jika pemilihan terjadi bagi lebih dari seorang maka wajib adanya pertemuan, baiat dan kesepakatan mereka sehingga ketaatan bisa sempurna. Apabila tidak ditemukan setelah wafatnya Imam (sebelumnya) kecuali seorang Quraisy saja yang padanya seluruh sifat Imam maka Imamahnya sah dan wajib menaatinya”.

Demikian pula, beliau menjelaskan dalam al-Mustashfa:

وكذلك عقد الإمامة لأحد الإمامين الصالحين للإمامة واجب والجمع محال

“Demikian pula akad Imamah untuk salah satu diantara 2 (dua) Imam yang layak untuk (menjabat) Imamah adalah wajib dan men-jama’-nya mustahil”.

Apalagi dalam dalam Raudhah ath-Thalibin karya Syaikh al-Islam Imam an-Nawawi yang merupakan ringkasan dan penyempurnaan terhadap Fath al-‘Aziz karya Imam ar-Rafi’i, syarah dari al-Wajiz karya Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dijelaskan:

يجوز أن يقال للإمام الخليفة والإمام وأمير المؤمنين

“Imam boleh juga disebut dengan Khalifah, Imam atau Amirul Mu’minin”.

Tentu saja, Syaikh al-Islam Imam an-Nawawi lebih paham tentang fiqihnya Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dibandingkan para ulama dan pelajar (santri) saat ini.

Apabila dipaksakan bahwa selain Sistem Khilafah mungkin saja yang dimaksud beliau dengan Imamah maka sistem tersebut mesti sesuai 2 (dua) pemikiran pokok beliau:

1. Imamah tidak dipisahkan dari ad-din dan bertujuan agar aturan ad-din dapat terwujud dengan sempurna, sehingga berbeda dengan Sekulerisme yang menolak ad-din dalam urusan Imamah.

2. Imam mesti diupayakan hanya seorang saja, tidak boleh lebih, sehingga berbeda dengan Qaumiyyah, Wathaniyyah dan Madzhabiyyah yang berhasil memecah – belah umat Islam dan negeri – negerinya.

Apakah dalam Republik, Monarki dan lainnya kedua pemikiran pokok tersebut dapat diterapkan?

Tentu tidak bisa, dikarenakan kedaulatan menurut Republik ada pada rakyat; vox populi vox dei “suara rakyat adalah suara tuhan”, sedangkan menurut Monarki ada pada raja; l’etat c’est moi “negara adalah saya”. Artinya, hukum dan undang – undang dianggap benar menurut mayoritas rakyat atau raja. Berbeda dengan Imamah menurut Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali yang jelas untuk menegakkan hukum Syariah yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam (shahib asy-syar’i).

Demikian pula, Republik maupun Monarki tidak menganggap penting kesatuan umat dan negerinya, sehingga terpecah – belah hingga lebih dari 50 negara disertai konflik antar suku dan madzhab di dalamnya. Semuanya merasa sebagai negara merdeka yang mandiri tanpa merasa perlu untuk membangun kesatuan politik dalam bentuk Imamah sesuai yang dijelaskan Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali.

Dengan demikian, tidak ditemukan dari Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali sandaran yang kuat bahwa umat Islam boleh tidak mengamalkan Khilafah, apalagi menolaknya dengan alasan menjadi dharar bagi umat dan negerinya. Justru, pendapat – pendapat beliau sama dengan ulama Asya’ariyyah dan Syafi’iyyah pada umumnya, bahkan dengan ulama dari berbagai madzhab, di masa lalu maupun masa sekarang.

Apa yang menjadi teori pokok dibolehkan mengambil hukum pemerintahan selain Khilafah yang diamalkan para Sahabat dan ulama terdahulu berupa substansi Islam, republik dan monarki justru berasal dari kaum Filosof, pengikut Aristoteles dan Plato yang divonis sesat dan kafir oleh Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah.

Pada intinya, mereka menempuh manhaj ahli bid’ah yang dinamai oleh Syaikhuna Yusuf an-Nabhani dengan istilah al-‘Ashriyyah (Modernisme).

Beliau berkata dalam ar-Ra’iyyah ash-Shughra fi Dzamm al-Bid’ah wa Ahliha wa Madhi as-Sunnah al-Gharra`:

فَيحظرُ شَيئاً كان بالأمسِ واجباً وَيوجبُ شَيئاً كانَ في أمسهِ حظرا

“Dia menganggap bahaya sesuatu yang pada masa lalu merupakan hal yang wajib, dan mewajibkan sesuatu yang pada masa lalu merupakan bahaya.”

Dalam Syawahid al-Haq fi al-Istighatsah bi Sayyid al-Khalq, beliau berkata:

ومن عجيب أمرهم وغريب شرهم وضررهم أنهم يحاولون أن يجعلوا الأمور الدينية على مقتضى الأحوال العصرية

“Dari anehnya urusan mereka dan asingnya keburukan dan bahayanya ialah mereka berupaya menjadikan urusan diniyyah agar sesuai dengan kondisi modern (kekinian)”.

Dalam Tarikh tercatat bahwa pengkhianat utama terhadap umat dan negeri yang mengubah Khilafah Utsmaniyyah menjadi Republik ialah kelompok Turki Muda yang lahir dari sekolah – sekolah Misionaris, yang diperingatkan bahaya nya sejak awal oleh Syaikhuna Yusuf an-Nabhani dalam Irsyad al-Hayara fi Tahdzir al-Muslimin min Madaris an-Nashara.

Sedangkan Monarki pertama yang menentang Khilafah Utsmaniyyah secara keras berasal dari Wahhabiyyah Najdiyyah yang dikritisi Syaikhuna Yusuf an-Nabhani dalam ar-Ra’iyyah ash-Shughra dan Syawahid al-Haqq.

Jika di masa sebelumnya rujukan Sufiyyah adalah Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dan Sulthan al-Auliya’ Imam al-Jailani maka Syaikhuna Yusuf an-Nabhani adalah rujukan di masanya dan setelahnya, sebagaimana ditetapkan dalam Idhah al-Karathaniyyah oleh al-‘Allamah al-Faqih Syaikhuna Tubagus Ahmad Bakri Sempur, Plered (Purwakarta), murid dari Habib Utsman ibn Yahya – Mufti Betawi, Syaikh Syathibi Gentur – Cianjur, Syaikh Khalil Bangkalan – Madura, Syaikh Shalih Darat – Semarang, dan Syaikh Mahfuzh Termas; yang termasuk salah satu murid Syaikhuna Ahmad Bakri ialah al-Musnid ad-Dunya Syaikh Yasin al-Fadani, guru dari Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Hasani al-Makki, Habib Umar ibn Hafizh al-Husaini al-Hadhrami dan Syaikh Mahmud Sa’id Mamduh al-Mishri. Wallahu A’lam.

oleh: Ahmad Abdurrahman al-Khaddami (Penulis Fiqih Khilafah Dalam Madzhab Syafi’i)

Purwakarta, 16 Juli 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *