Artikel, Religi

Ustadz Felix Siauw: Pemimpin Tegas Itu Hasil Syariat

[webfathan] Kebanyakan sahabat sangat lunglai ketika diputuskan bahwa mereka harus pulang lagi ke Madinah di saat itu. Bagaimana tidak, rindu mereka akan thawaf sudah diujung rasa

Namun perjanjian itu sudah terjadi, sahabat Umar yang sedari awal sangat tersinggung dengan poin-poin yang ditawarkan Quraisy, juga sangat terpukul dengan kejadian ini

Sampai-sampai ia berkata pada Rasulullah, “Bukankah engkau adalah Nabi Allah? Bukankah kita diatas kebenaran?”. Sebuah pernyataan yang mewakili rasa hatinya

Tapi panglima tertinggi adalah Rasulullah. Keputusan ada di tangannya, dan beliau tenang menjawab, “Aku utusan Allah, Aku takkan mendurhakai-Nya, Dia-lah penolongku”, keren

Sepeninggal Rasul, giliran Khalifah Abu Bakar menghadapi masalah multidimensi. Ancaman Persia dan Romawi, para murtadin, nabi palsu, dan penolak pembayar zakat

Disaat semua perlu perhatian, beliau berangkatkan pasukan Usamah bin Zaid ke Romawi. Umar tidak setuju, begitu juga sahabat lain yang merasa ada yang lebih perlu didahulukan

Sekali lagi, Khalifah Abu Bakar, sebagaimana Rasul saat di Hudaibiyah, adalah panglima tertinggi. Beliau menunjukkan, bagaimana kualitas pemimpin di dalam Islam

Beliau berkata, “Andai tidak ada yang tersisa di negeri selain diriku, aku tetap akan melaksanakan hal itu”. Mengapa? Sebab ekspedisi itu program dari Rasulullah saw

Sekarang kita tahu, pemimpin itu tidak boleh bingung, tidak boleh curhat, tidak boleh plinplan. Sebab ia panglima tertinggi. Andai yang tertinggi saja galau, bagaimana bawahannya?

Dan dalam Islam, ketegasan seorang pemimpin itu menjadi anti-otoriter, sebab ia bukan memutuskan berdasarkan dirinya sendiri, tetapi berdasarkan Kitabullah dan Sunnah

Itu yang dicontohkan Rasulullah dan Khalifah Abu Bakar. Tegas itu saat berpegang pada Kitabullah dan Sunnah, sebab keduanya takkan pernah berubah, dan selalu memberi keberkahan

Misalnya, sampai kapanpun syariat tidak akan menerima seorang pencuri yang mengatakan, “Beda, saya bukan mencuri, tapi mengambil barang orang lain tanpa izin”, atau menerima pernyataan yang sama lucunya dengan itu

Allah Mahabaik, di kengerian wabah ini, kita masih dikasih komedi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *